Tuesday, August 19, 2014

SID 19th

Selamat Ulang Tahun ke 19 Superman Is Dead
tanpa mengecilkan peran orang tua,keluarga dan lingkungan, kalian sedikit banyak cukup mempengaruhi saya bagaimana beranjak remaja,memandang hidup,sense of crissis dan hal- hal diluar kotak yang menjadi trend dimasa peralihan saya...
Andai di tahun 2002 saya tidak nekat beli kaset kalian di Metro city,mungkin saya sudah sama seperti mereka,nongkrong naik motor orang tua di pinggir jalan,kebut-kebut an ala geng motor,pergi ke diskotik kampungan,pakai pakaian surfing stabilo kayak anak alay dan badau...hehe
Terimakasih Pakde teruslah ada di jalanmu yang sekarang semoga akan tumbuh generasi generasi seperti kalian...


Tetaplah menjadi kalian sesungguhnya dan #TolakReklamasi

# via @ajitango

Tuesday, April 15, 2014

Passion,Fanatisme dan Kegilaan

Passion,Fanatisme dan Kegilaan
"Ini tentang fanatisme dan kegilaan.Kalian tidak akan pernah mengerti jika kalian tidak merasakan hal yang sama"
Menjadi supporter bola adalah
passion bagi sebagian orang.
Melihat pertandingan sepak bola
langsung di stadion dengan
bernyanyi, berteriak, dan meneror
lawan demi mendukung tim
kesayangan adalah sesuatu yang
sangat menyenangkan. Sangat sulit
menjelaskan dan mendeskripsikan
tentang kebahagiaan menjadi
seorang supporter, sebuah
kesenangan yang tak bisa dinilai.
Teriakan gol adalah luapan emosi
yang begitu tulus, kemenangan
adalah hadiah paling special dan
kekalahan adalah kesedihan yang
mendalam. Chant kami adalah
teriakan letupan semangat, caci maki
adalah terror untuk lawan bukan
kebencian. Lagu yang kami
nyanyikan adalah bentuk kecintaan
kami kepada klub.
Sepak bola bukan hanya
kemenangan dan kebahagiaan.
Kadang kekelahan mendatangkan
getir kesedihan yang mendalam.
Ibarat kita sedang jatuh cinta dan
cinta kita bertepuk sebelah tangan.
Seperti itulah kesedihan yang kami
rasakan jika tim ini didatangi
kekalahan.
Barito Putera bukan hanya sebuah klub
bagi kami, Barito adalah keluarga
besar. Kami mencintai klub ini
layaknya kami mencintai sebuah
keluarga. Jika klub mengalami
kesusahan kami pun akan merasakan
hal yang sama dan kami akan
berusaha bagaimanapun caranya
agar klub yang kami cintai tetap
bertahan.
Mungkin sebagian orang
menganggap kami gila, tapi
beginilah kami. Mencintai klub
seperti mencintai diri kami sendiri.
Ada kesenangan dan kebahagiaan
tersendiri yang gak bisa diungkapkan
dengan kata-kata. Kecintaan yang
begitu mendalam. Melihat Persis
berlaga secara langsung adalah
menjadi sebuah “kewajiban” bagi
kami. Ada semacam kekecewaan jika
tidak bisa hadir langsung di stadion
terutama di saat laga kandang.
Puluhan ribu kilo telah kami lalui,
jutaan rupiah telah kami keluarkan
untuk mendukung Barito Putera. Harga
yang pantas dikeluarkan untuk
sebuah “cinta”. Cinta kami tak akan
luntur dan lekang oleh waktu. Tak
akan pudar oleh terpaan problem.
Hanya satu untuk Barito putera.
Loyalitas kami tak akan mampu
dibayar oleh ratusan lembar rupiah.
Tak akan goyah dengan seribu
ancaman. Sekali lagi ini tentang
passion, cinta dan kebanggaan.
Cinta adalah pengorbanan,
memberikan dengan tulus. Setiap
tetes keringat, setiap teriakan lagu,
setiap langkah jejak kami, setiap
uang yang kami keluarkan adalah
bukti cinta tulus kami untukmu
Barito Putera. Kami tak akan pernah
berhenti dan tak akan pernah lelah.

Ohhh Barito We Love You!!
Barito Putera 1988 Jiwa raga kami!

Saturday, April 12, 2014

Copas Teman di Bandung :)

Casuals Salah Kaprah

Kalau ada kesalahan tolong sarannya :* 

Sedikit pengetahuan tentang Casuals, subkultur casual adalah salah satu kultur dalam sepakbola yang erat dengan tipikal hooliganisme dengan pakaian yang mahal dari designer2 eropa. subkultur ini dibentuk pada awalnya di inggris pada akhir tahun 1970.an saat para hooligans mulai memakai pakaian berlabel designer besar untuk menghindari perhatian dari polisi. mereka tidak memakai warna baju klub mereka, supaya lebih mudah untuk menyusup pada grup rival mereka dan masuk ke pub mereka.beberapa label dari 1980 yang biasa dipakai mereka adalah: Fila, Stone Island, Fiorucci, Pepe, Benetton, Sergio Tacchini, Ralph Lauren, Henri Lloyd, Lyle & Scott, Adidas, Ben Sherman, Fred Perry, Lacoste, Kappa, Pringle, Peter Storm, Burberry, Reebok dan Slazenger. Kultur Casuals pertama kali diperkenalkan oleh para Supporter Liverpool di tahun 70 akhir, Supporter West Ham pun juga tidak bisa dilepas dari penyebaran Kultur ini   


Di era 2000 banyak film film Hooligan Inggris beraroma Casuals seperti Green Street Hooligans, The Footbal Factory, Cass, White Collar Hooligan, The Rise of footSoldier, Awaydays dll. Kultur Casuals ini sekarang sudah muncul di Indonesia yang dipelopori oleh FCC di tahun 2005.FCC merupakan kependekan dari Flowers City Casuals, yang maknanya kurang lebih sebagai Casuals dari Kota Bandung, berawal dari kesukaan akan budaya inggris, hoby bergaya dengan brand eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung, FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.Dimanakah FCC bisa ditemui? FCC selalu berada di sisi utara Stadion Siliwangi / Sijalak Harupat, di setiap laga tandang, jangan berharap mendapatkan koreografi yang indah disini, apa lagi berharap bisa bernyanyi bersama chants Uwa Ewe atau ************ sama Saja, karena FCC  tidak seperti itu, FCC berbeda dengan pendukung lainnya, tak ada panglima, tak ada koreografi, mungkin hanya flare terbakar, chants dan caci-maki terhadap klub lawan yang akan didapatkan disini      


Tetapi sayang FCC harus bubar beberapa tahun yang lalu, mungkin karena konflik Internal atau yang lainnya. Walaupun FCC sudah bubar masih banyak Bobotoh yang menganut subkultur ini, mereka ada setiap Persib bermain tepatnya di Tribun Utara Sijalak Harupat dekat Tribun Timur. Di Bandung nampaknya Casuals sudah menjadi style tersendiri di Masyarakat, mulai dari anak SD, SMP, SMA hingga Kelas Pekerja, bahkan anak anak SMP di Bandung sudah banyak yang mendirikan organisasi Casuals tersendiri macam Student Class,*** Crew bahkan hingga menamainya Firm :o. Namun masih banyak orang yang belum mengerti tentang subkultur ini.
Yang pertama mulai dari media, supporter Casuals di luar negeri cenderung menghindari media, bahkan memusuhinya, hal ini bahkan terdapat di Film Green Street Hooligans. Namun beda lagi dengan disini, Casuals disini justru terang terangan menunjukan jati diri mereka kepada media, bahkan hingga melakukan Photo Studio :(


Yang kedua banyak rekan rekan saya yang menempelkan banyak patch di Jaketnya mulai dari Trojan, West Ham, ST Pauli -_-, Skinhead, Stone Island yang bentuknya bulet dll, Lalu hubungannya apa Patch Patch itu dengan tim lokal ?
Contoh jaket temen saya -_-
Yang ketiga saya suka greget liatnya, Banyak anak anak Remaja berpenampilan Casuals yang suka merokok di Stadion bahkan hingga membawa minuman keras, padahal para Working Class disanapun jarang melakukan hal seperti itu di Stadion,  coba lihat anak anak remaja di Inggris deh apakah mereka melakukan hal seperti itu ?

Yang keempat tentang style ke Stadion, kita lihat di Inggris apakah para supporter selalu memakai setelan Casuals bila pergi ke Stadion ? Jawabannya salah, diluar negeri setelan Casuals hanya dipakai pada saat Awaydays atau sedang musim dingin. Bila sedang musim panas ya mereka menggunakan Atribut klub. Menurut saya sih Setelan Casuals hanya cocok dipakai saat Awaydays saja, di Bandung saja banyak Supporter Casuals yang tidak memakai atribut klub bila datang ke stadion bahkan banyak yang memakai Jersey West Ham United -_-, belum lagi cuaca di Indonesia panas mana mungkinkan di tengah siang bolong kita menggunakan Parka, Scraf Burberry dll ;)



 Udah cuman segitu aja Tulisan dari saya ,ya  semuanya balik ke diri masing masing aja sih ;) mohon maaf kalau ada kata kata yang kurang berkenan #Supportyourlocalteam #KTF 


Monday, March 31, 2014

Fans layar kaca~

Bagaimana memahami para fans jingkrak-jingkrak membawa bendera merah putih ketika Arsenal mencetak gol ketujuh ke gawang Indonesia? Agak sukar memahaminya. Tapi mungkin ada beberapa alternatif untuk memahami hal itu.
Kemungkinan pertama, mungkin para fans itu memang tahu diri untuk tidak terlalu tegang menyaksikan pertandingan. Untuk apa bertegang-tegang ria di sebuah pertandingan hiburan, bukan? Atau, jika ingin menyesuaikan dengan suasana Ramadan, bisalah laga-laga seperti ini disebut sebagai upaya klub-klub itu menjalin “tali silaturahmi” dengan para fans yang sudah dengan ikhlas dan tawadhu ikut membesarkan atau bahkan membiayai klub kecintaannya.
Ya, itu memang pertandingan hiburan, laga silaturahmi. Juga laga Indonesia XYZWRXXX (entahlah apa lagi namanya) vs Liverpool atau Chelsea beberapa waktu yang akan datang. Bahkan disebut “laga persahabatan” (friendly match) pun rasanya memang kurang begitu pas.
Indonesia vs Belanda beberapa waktu lalu mungkin lebih pantas disebut sebagai “laga persahabatan”. Selain itu memang laga yang mempertemukan tim dari kategori yang sama (sama-sama timnas), laga itu juga berakhir dengan skor yang “bersahabat”: hanya 3-0. Masih bersahabat lah itu angkanya.
Memangnya kenapa kalau 7-0? Ya, memang apa enaknya kalah 0-7?
Jacksen F. Tiago, pelatih timnas sekarang yang menukangi tim yang dihadapi Arsenal, juga sudah mewanti-wanti risikonya. Jacksen sejak awal memang tidak mau kalah terlalu banyak (memangnya siapa yang mau?) karena kalah telak bisa mengganggu psikologi para pemain timnas yang sedang dipersiapkan untuk menghadapi lanjutan kualifikasi Piala Asia.
Kemungkinan kedua, kali ini agak sedikit rada serius argumentasinya, para fans itu mungkin memang sudah tak lagi terpengaruhi “wabah” nasionalisme. Mereka adalah wakil generasi baru orang Indonesia yang tak mau lagi dibekap slogan-slogan usang kebanggaan dan fanatisme terhadap apa yang disebut tanah air, bangsa dan negara.
Untuk yang seperti ini, apa pun jika dirasa baik dan berguna kenapa harus ditampik? Tak penting lagi dari mana asalnya, kalau dirasa cocok, suka, nyaman dan menyenangkan, ya ayo dinikmati saja.
Apa untungnya coba berdarah-darah mendukung tim nasional Indonesia yang –dengan memplesetkan kalimat termasyhur Pramoedya– “sudah kacrut sejak dari passing“? Tidak ada gunanya, dan buang-buang waktu serta tenaga, untuk peduli dengan sepakbola Indonesia. Untuk apa peduli dengan sepakbola Indonesia jika para pengampu urusan bal-balan Indonesia-nya sendiri malah sibuk mikirin Pemilu 2014?
Emosi? Lho, banyak dari mereka bisa sangat emosional, histeris dan menjerit-jerit melihat pemain-pemain bule pujaannya lewat di depan mereka. Mereka hanya perlu diberi satu atau dua smoke bombatau red flare untuk bisa sekeren ultras di Italia atau barra bravas di Argentina.
Bahwa sisi emosional dan histeria itu kadang agak sedikit rada sukar dibedakan dengan histeria para fans Super Junior atau Cherrybelle, ya itu sih bukan perkara yang terlalu penting untuk dipersoalkan. Toh, memang tak ada yang berhak menghakimi kalau para fans Arsenal, Chelsea, atau Liverpool yang histeris melihat pemain idolanya (tiga tim yang bulan ini pentas di Jakarta) lebih keren dari para fans Super Junior atau Cherrybelle.
Kemungkinan ketiga, ini lebih serius lagi argumennya, mungkin para fans itu hanya sedang menikmati sesuatu secara lebih proporsional saja. Karena jarang menonton langsung klub-klub Eropa itu bermain, tidak ada salahnya untuk bersorak-sorai, bernyanyi, atau bahkan menyalakan flare untuk semua aksi-aksi menarik yang tersaji di atas lapangan. Di lain kesempatan, saat tim nasional Indonesia bertanding, banyak dari mereka yang juga dengan sangat khidmatnya menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum kick-off.
Bukankah orang bisa mencintai dua hal berbeda pada waktu yang sama? Perselingkuhan? Sama sekali bukan.
Ini seperti orang yang menyukai gado-gado (baca: sepakbola/tim nasional) sekaligus menggemari karedok leunca (baca: sepakbola/klub Eropa). Kalau yang tersedia gado-gado, ya akan disantap dengan sepenuh hati. Kalau yang tersaji adalah karedok leunca, juga akan disikat dengan sepenuh liur.
Bagaimana kalau dua jenis makanan yang disukai itu terhidangkan di meja dalam waktu yang sama? Ya pilih saja salah satu yang paling jarang dimakan atau sudah lama tidak dicicipi. Bisa memilih gado-gado, boleh juga memilih karedok leunca. Keduanya bisa sama-sama sehat. Apalagi jika dimakan tanpa vetsin.
Dan jika seseorang sudah mencintai sesuatu, apa yang lebih membahagiakan selain berjumpa dengan objek yang dicintainya? Begitu pula para fans yang sudah terlalu lama mencintai klub Eropa kesayangannya dari kejauhan. Kalau mencintai klub Eropa adalah kesalahan, mereka akan dengan senang hati memilih untuk terus jadi salah. Tak ada keraguan untuk soal yang satu ini.
Kawan, selamat menikmati karedok leunca, eh… pentas sepakbola!

bagi saya mencintai tim eropa tapi tidak mencintai tim lokal sama halnya,mencintai isti tapi tidak mencintai ibu, durhaka men!

Suporter latah atau panggilan jiwa?

Supporter Latah Atau Panggilan Jiwa?

Ultras, Ya sepertinya fenomena ini belakangan mulai dekat dengan telinga supporter sepakbola Indonesia. Kehadiran Ultras didalam stadion selalu mendapat perhatian yang lebih dari musuh ataupun dunia luar. Atraksi koreo, chants, bendera-bendera besar dan flare selalu mempercantik tribun mereka dan juga sebagai cara guna mengintimidasi pemain lawan.

Di Indonesia sudah ada beberapa kelompok supporter juga mulai yang menamakan diri mereka ultras, Mereka memakai seluruh atribut hitam, Berdiri 90 menit dan Mengintimidasi tim tamu dengan cara mereka sendiri. Salut buat kelompok supporter yang memang sudah menjadi Ultras sejati ini.

Tapi juga tidak sedikit yang menggunakan nama Ultras hanya guna mengikuti trend yang ada saat ini. Mereka menamakan Ultras hanya ingin dilihat lebih “keren, gaul, hebat dan ikut trend” bukan lagi murni Panggilan Jiwa yang 90 menit seluruh tenaga hanya untuk para pahlawan yang berjuang dilapangan.
Mereka menggunakan nama Ultras hanya karena ingin diliput televisi atau ada pula yang menamakan ultras hanya karena memanfaatkan momentum untuk menjual merchandise, mendapat uang dan keuntungan dengan mengecilkan kontribusi untuk tim yang mereka dukung.

Ultras sejati tidak perduli dengan popularitas, mereka malah tidak ingin dikenal secara individu per individu, bahkan mereka memakai penutup muka ketika beraksi mendukung tim yang mereka dukung. Beda dengan ultras di Indonesia yang rela memakai kaos ultras foto-foto di tribun dan fotonya disebar ke jejaring sosial. Kebanggaan individu per individu inilah yang terkadang mengalahkan kebanggaan mereka terhadap tim yang mereka dukung.

Ultras yang sebenarnya selalu mengedepankan totalitas, loyalitas dan persahabatan didalam kelompok mereka. Tidak perduli apapun resiko yang dihadapi jeruji besi ataupun rumah sakit tidak akan pernah menghalangi mereka, ketika tim kalah ataupun menang mereka tetap akan berdiri dan bernyanyi 90 menit, mereka tidak menyerang apabila tidak diserang dan bagi mereka sepak bola bukanlah hanya sekedar olahraga, Bagi mereka sepakbola dalah sebuah kebanggaan yang tidak dapat ditukar dengan apapun, Itulah mental seorang Ultras sejati.

So, Sudah siapkah kita menjadi Ultras? Atau hanya ikut latah dengan trend ini?

FUCK YOUR BIG MOUTH, THIS IS MY TEAM

Dahulu kita pernah susah.. Kita pernah kalah, kita pernah jatuh , kita pernah degradasi ke titik terendah persepakbolaan Indonesia tapi kita bisa bangkit berdiri lagi di puncak tertinggi walau saat ini dengan langkah yg terseok seok!!

Apakah hari ini "kita semua" akan meninggalkan tim ini di saat terluka? Disaat mereka lemah?? Di saat mereka butuh tenaga tambahan??
Saya tidak akan meninggalkan mereka!!!

Apakah kita rela di sebut sebagai penonton yg hanya bersorak disaat menang dan menghina disaat kalah??

11 orang itu sudah berlari dan bermain selama +90 menit dilapangan. Mereka berjuang maksimal ... Trus Kita mengatakan management salah, pelit dll... Apakah kita menghitung puluhan milyar yg mereka carikan dan keluarkan untuk memberi kita tontonan dan kebanggaan ?? Apakah karena kita membeli tiket 100-300rb membuat kita pantas menghujat?? Apalagi yg cuma nonton di televisi gratis!!

Sahabat Barito mari rapatkan barisan, beri mereka kepercayaan dan keyakinan bahwa kita tidak akan meninggalkan tim ini.

Cara merawat adidas kesayangan lo!

kali ini gue memberikan sedikit info tentang menghilangkan bau tidak sedap yg ada di sepatu lo. Sebagai Suporter sepatu bukan lah hal yang asing, tetapi hal yang sangat wajib dipakai ke stadion. Oleh karena itu gw akan memberi sedikit info tentang itu!
Untuk menghilangkan bau sepatu tidak sedap sebenarnya sangat mudah sekali. Hanya saja selama ini kita tidak mengetahui informasinya tau juga cara yang kita terapkan kurang tepat sehingga bau tidak sedap pada sepatu kita tetap bertahan dan tidak mau hilang. Untuk menghilangkan bau sepatu tidak sedap, loe bisa menggunakan cara menghilangkan bau sepatu tidak sedap berikut ini.
1. Untuk menghilangkan bau sepatu tidak sedap bisa loe lakukan dengan menggunakan kopi yang dibungkus dengan tisu. Caranya cukup mudah yaitu dengan memasukkan kopi yang telah dibungkus tadi ke dalam sepatu loe.
2. Menghilangkan bau sepatu tidak sedap bisa juga loe lakukan dengan menyimpan sepatu pada tempat yang dingin selama semalaman. Selama penyimpanan, bungkuslah sepatu dengan koran serapat mungkin. Hal ini bertujuan untuk menyerap bau yang ada pada sepatu loe.
3. Agar sepatu yang loe miliki tidak berbau, sebaiknya anda jangan memakai sepatu anda saat kondisi kaki loe sedang basah atau lembap. Kondisi kaki yang basah atau lembab akan menyebabkan bakteri pada sepatu loe dapat berkembang biak dengan cepat dan nantinya akan menyebabkan bau tidak sedap pada sepatu loe.
4. loe juga bisa menggunakan obat khusus berupa semprotan pewangi atau foot spray pada bagian dalam sepatuloe untuk mencegah bau tidak sedap. Setelah disemprot jangan langsung digunakan, loe harus mengangin-anginkan sepatu loe agar cepat kering.
5. Jika sepatu loe basah terkena air hujan, segera keringkan sepatu loe dan masukkan beberapa lembar tisu atau koran ke bagian dalam sepatu loe agar memudahkan penyerapan sehingga sepatu loe cepat kering.
6. Setelah sepatu dibersihkan jangan lupa untuk diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum dimpan di dalam kotak. PERINGATAN!!! Jangan menjemur sepatu di bawah sinar matahari langsung karena dapat membuat warna sepatu pudar dan sepatu cepat rusak.
7. Untuk menghilangkan bau sepatu tidak sedap bisa anda lakukan menggunakan soda kue. Caranya cukup keringkan sepatu loe kemudian taburkan 1 sendok makan soda kue ke bagian dalam sepatu dan biarkan selama semalaman. Selanjutnya bersihkan soda ke dari bagian dalam sepatu.
8. Untuk menghilangkan bau sepatu tidak sedap bisa juga anda lakukan menggunakan silica gel. Silica gel berfungsi untuk menyerap uap air pada udara sehingga kondisi lingkungan tetap kering. Silica gel dikemas dalam bentuk sachet yang biasanya terdapat dalam kotak sepatu saat kita membeli sepatu. Cukup masukkan silica gel ini kebagian dalam sepatu loe saat disimpan maka sepatu loe akan terbebas dari bau tidak sedap.
9. rutin mencuci sepatu anda minimal 2 minggu sekali atau max sebulan sekali
kurang lebih itu yg gw tau, yg mau nambahin silahkan di bawah gw yess, di rangkum dari berbagai sumber dan pengetahuan sendiri